When Mainstream Becomes Fake, and Fake Becomes Mainstream

By Faiz Al-Shahab

 

The Game of Thrones season finale craze have brought about once again the smoking corner small talk over the similarities of the Malaysian 14th General Election with the HBO sensational series.

In this fantasy drama that is a closet political science case study journal, the uncanny resemblance – of rivalry and hatred between Malaysian then opposition parties in GE-14 and the ruling families portrayed in the series whereby everyone had to put aside their differences in the name of survival and to defeat the army of the dead – is pretty obvious.

Except today…there will always be an “except” for Malaysia…the army of dead is far from dead, and the ruling families are at each other’s throats again, with hardly any reform put through.

Besides economy and education, some of the issues the mass were most upset about, such as the police system, judiciary system and the civil service, are still left as it is.

Perhaps challenging these orders will cause too much commotion in this rather peaceful country, hence easier to let it be.

However, one component of the country’s system which should already by now have gone through an overhaul, is the media.

One would think that the media is not as “invincible” as the ones mentioned above, but turns and twists in the country have left the media to still maintain status quo.

The funny part to all this is that journalism, just like engineering, architecture, and discipline of medicine, pillars on integrity and professionalism.

Well, one can argue that law and accounting are also one of those professional career that stands on good values, but look at them, turn your head away and many will indulge in crime and corruption.

I guess professional integrity in this context is a weak argument after all.

Media in this country, despite of a liberal environment now in Malaysia, remains despicable.

Reasons to why there are so much fabricated news and civilians taking matters in to their hands in spreading none curated news is simply because the mainstream media are nothing more than just prostitutes to corporations and politicians.

For instance, there are not many work of investigative journalism taking place.

The Education Minister rant for two hours on plans and policies, and yet the media chose to pick up a petty issue regarding black or white school shoes and turn it to a debate which wasted everyone’s time.

The Prime Minister spoke for half hour on what the nation need to do to bring it back on the right track heading towards Fourth Industrial Revolution and the media picked up on his statement over so much money is spent on killing people.

It was a pact deliberated by the media, because all of them came up with the same headline, despite of no official press statement on the comment.

Usually, most media agencies will bow down to invites of VIPs and will rather swamp a media conference for official statements rather than seeking the truth.

To some extent the perception above is very unfair.

Some media friends have express their guilt and dissatisfaction of forced involvement in orchestrating news, but it is a small trade off to having their families being followed and harassed.

And so because of safety we leave politics alone, and look at commercial products instead.

Disappointingly, similar resentment in commerce too as the media will remain loyal to the brand owners who feeds them with advertising money.

Pathetically, in many cases too, media will praise and hide all defects of a product with the thinking that the corporation behind the product will eventually become their advertiser.

In all of this, whilst the so called professionals are busy trying to make money at any cost, whilst the law and judiciary system sympathizes corporations, the losers remain to be the Malaysian public.

This is mainly due to the notion that effects of partial truth in information and news is not as severe as signing off a poorly designed bridge or multi-story building.

Whilst the foresight is that misleading information will only cause loss of money to the mass fools, a collapsed bridge signed off by a dodgy engineer can cause deaths.

What was not taught in school is that partial truth can also cause death of lives.

So anyway, what is needed from Malaysian media?

The citizens is in dire need of investigative journalism, meaning more questions and digging.

This may not be welcoming by many, but it is the only way that voice of integrity can be restored again in this country.

So much so that the downfall of previous ruling party was the work of a foreign journalist, whilst for years, the local journalists witness all the buffoonery yet kept their mouth shut.

The media should do their bit, and grow more guts!

Commercial product whom have benefited from rogue media will continue bluffing the public, and public will continue falling into the traps, until one day, the trust is completely destroyed.

That day, advertisements and social media will not work anymore.

Perhaps there is a sneaky suspicion that our media does not understand the subject matter that they are reporting.

Therefore they will report only on parts that they understand, which at the end of it, is missing the point completely.

Malaysia need cleverer and smarter people, reporters included.

What the country can opt for is probably a platform for community journalism.

This platform, where the reporters are members of the public graded by public rating, hopefully will bring news that are more related to us, news which can reveal the hidden truth, and news that are valuable and trustworthy and free from commercial bribery.

With time, we shall wait and see if this can reduce the fake news movement in the country.

Meantime, Ramadhan Kareem everyone.

 

Other articles written by author:

Made in Malaysia: A Prejudice in Disguise

Sejenak Bersama Acik Lana

 

Sesi temu bual bersama penulis kali ini sedikit berlainan. Tidak lama lagi, rumah Penerbitan Acik Lana, Booku Enterprise akan bersama kami. Jom kita kenali penulis Red Velvet ini dengan lebih dekat.

1. Siapa yang memberi inspirasi untuk Acik Lana menulis?

Orang sekeliling menjadi inspirasi untuk saya menulis. Kadangkala saya gemar memerhati tindak tanduk manusia dan membuat telahan dan tekaan di kepala. Bukan dari sudut negatif, sebaliknya dari sudut positif. Selain itu kisah-kisah yang dibaca dalam internet, atau pengalaman sebenar rakan rapat atau ahli keluarga juga menjadi inspirasi untuk saya mengembangkan sesebuah cerita yang direka.

2.Apa makanan kegemaran anda?

Sejak beberapa tahun kebelakangan ini, saya gemar menikmati hidangan Korea. Lagi pedas, lagi saya suka. Selain itu lauk pauk Melayu dan ulam-ulaman juga menjadi kegemaran saya.

 

3.Siapakah penulis kegemaran anda? (tak kisah luar negara or dalam negara)

Sebenarnya sudah berbelas tahun saya tak membaca novel. Cuma penulis yang saya sentiasa suka gaya penulisannya adalah Ma Lee Chuswan. Sanggup kumpul novel-novel lama beliau. Bagi saya lenggok bahasa dan tulisan beliau mampu meletakkan diri saya dalam dunia kisah novel itu sendiri.

4.Apakah novel kegemaran Acik Lana? (tak kisah luar negara or dalam negara)

Permata Hati karya Ma Lee Chuswan

5.Ada haiwan peliharaan tak di rumah?

Ya. Sejak dari dulu saya suka membela kucing. Dan sekarang sudah memiliki kira-kira enam belas ekor kucing yang ditempatkan di dalam sangkar besar yang ditempah khas. Dan sejak memiliki cahayamata, saya membela pula ikan dan hamster untuk memupuk perasaan cintakan haiwan dalam diri anak kecil ini.

6.Jika anda diberi peluang untuk melancong secara percuma, ke manakah anda mahu pergi dan mengapa?

Switzerland sentiasa menjadi destinasi percutian impian saya. Saya sukakan negara bersalji dan Switzerland cukup terkenal dengan keindahan panoramanya yang sangat memukau. Cuma belum ada rezeki lagi nak sampai ke sana.

7.Apakah Acik Lana merancang untuk menulis dan produce novel terbaru?

Ya, saya masih dalam proses awal untuk menghasilkan novel terbaru.

8.Apakah pesanan Acik Lana kepada pembaca di luar? 

Pesanan saya, sentiasalah menyokong dunia penulisan di negara kita. Tanpa pembaca tiadalah penulis. Dan segala kritikan serta komen sangat dialu-alukan demi memperbaiki lagi mutu penulisan kami. Kadangkala kita tak mengerti apa yang pembaca mahukan. Jadi pandangan mereka sangat penting untuk para penulis menghasilkan karya yang lebih bermutu dan sesuai dengan selera pembaca.

9.Pada pandangan Acik Lana, apa istimewanya novel Acik Lana berbanding novel lain di pasaran?

Sukar untuk saya nyatakan apa keistimewaannya. Kerana bagi saya, setiap novel yang dihasilkan oleh semua penulis mempunyai kekuatan dan keistimewaan masing-masing. Bagi novel saya sebelum ini, saya cuba untuk menghasilkan karya yang kisahnya lebih dekat dengan masyarakat kita. Cuma beberapa buah novel kebelakangan ini saya mula cuba mengubah rentak dengan mengambil risiko menghasilkan cerita berbentuk ‘super natural’. Dan Alhamdulillah, sambutan yang diterima sangat-sangat menggalakkan.


10.Dari mana Acik Lana selalu dapatkan ilham untuk menulis? Ada yang dari pengalaman sendiri ke?

Ilham datang dalam angan-angan. Kadangkala bila duduk termenung, tiba-tiba saja terdetik idea. Alhamdulillah, rezeki dari Allah. Dan setakat ini belum ada yang mengikut pengalaman sendiri. Di masa depan, tak pasti pula. Hehe.

11.Apa rutin harian Acik Lana? Ada yang rare tak?

Sejak mempunyai cahayamata, kehidupan seharian saya lebih banyak berkisarkan tentang anak perempuan saya. Tapi sekali dalam seminggu, kami bertiga wajib keluar ke pusat membeli belah untuk merehatkan minda. Sudah terbiasa bekerja di pejabat sebelum ini, bila menjadi surirumah sepenuh masa memang saya sangat perlukan ruang untuk ‘berehat’ di luar.

12.Describe diri Acik Lana dalam 3 patah perkataan?

Mudah tersentuh. Tegas. Penyayang. (Aduhai!)

13.Apa nasihat Acik Lana kepada penulis- penulis yang masih baru dalam industri buku?

Nasihat saya, menulislah dengan penuh semangat dan sentiasa cuba memperbaiki kelemahan yang ada dari masa ke semasa. Tak boleh mengalah atau berasa lemah dengan kritikan yang keterlaluan. Jadikan semua itu sebagai semangat untuk kita menulis dengan lebih baik lagi. Selain itu, saya berharap agar dunia penulisan ini lebih ‘damai’ tanpa sebarang sikap-sikap negatif atau berpuak-puak yang sering melagakan diantara satu sama lain. Bukankah lebih menguntungkan jika kita semua bersatu hati tanpa ada perasaan iri hati? Just my two cents.

14.Selain Bahasa Melayu, Bahasa Inggeris, Apa lagi bahasa lain yang Acik Lana kuasai?

Dua bahasa itu saja yang saya tahu. Mungkin boleh belajar bahasa Korea pula selepas ini kalau ada masa lapang. Hehe.

 

Nantikan judul-judul LIMITED EDITION dari Acik Lana dalam versi eBook. Untuk mendapatkan hasil karya beliau yang lain juga, anda boleh terus klik di link di bawah.

https://www.e-sentral.com/author/filter/au_82561_acik-lana/~

 

Sejenak Bersama Khairul Abdullah

Salah satu karya Khairul Abdullah

Pada sesi temu bual bersama penulis kali ini, kami bawakan kepada anda seorang penils genre non- fiction. Penulis yang kami maksudkan ialah Khairul Abdullah. Ini sesi temu bualnya..

Khairul Abdullah dilahirkan di negeri Kedah, beliau menerima pendidikan di Sekolah Sains Perlis, kemudiannya melanjutkan pelajaran ke UiTM Shah Alam di dalam bidang Perancangan Bandar. Setelah bekerja di dalam industri pembinaan selama hampir 7 tahun beliau telah berhenti dan bekerja sendiri sebagai seorang pereka dan jurugambar bebas bagi memenuhi minat mengembara.

Mula menjelajah Benua Asia ketika berusia 20an dan seterusnya benua-benua lain seperti Australia dan Eropah sehingga sekarang. Dengan minat terhadap kembara dan juga pengalamannya di dalam bidang fotografi, beliau berpeluang untuk tinggal dan bekerja di luar negara seperti di China, Thailand, Jepun dan juga di Jerman. Peluang tersebut digunakan dengan sebaiknya untuk menimba pengalaman serta menjelajah benua yang didiaminya.

Buku pertama beliau berjudul I’m A Backpacker: Europe yang merupakan sebuah buku panduan kembara. Buku tersebut dipilih oleh MPH sebagai “10 Best Book of 2016” dan turut memenangi “Anugerah Pilihan Pembaca Popular-Berita Harian 2017”.

Buku kedua beliau Mentaliti Jamban yang berkisar tentang sikap manusia boleh didapati di mana-mana rangkaian kedai buku utama di Malaysia dan sering menduduki carta-carta “bestsellers” di MPH, Popular, Borders dan Kinokuniya. Buku tersebut jug turut tercalon untuk Anugerah Pilihan Pembaca Popular-Berita Harian 2017.

Beliau turut menghasilkan dua lagi buku berjudul I’m A Backpacker: Germany yang juga sebuah buku panduan kembara dan Untunglah Malaysia Masih Aman, sebuah buku sindiran sosial. Buku terbaharu beliau berjudul Mentaliti Masih Jamban, iaitu sambungan kepada buku laku keras beliau baru sahaja diterbitkan dan turut dicalonkan oleh MPH Buku Bukan Fiksyen Terbaik 2018.

Kini beliau sering menerima jemputan untuk berceramah di sekolah-sekolah dan juga institusi pengajian tinggi bagi berkongsi ilmu, pandangan dan pengalamannya. 

Nak kenal penulis ini dengan lebih dekat? Jom baca temu bual kami di bawah.

1. Siapa yang memberi inspirasi untuk Khairul Abdullah menulis?

Inspirasi adalah dari diri saya sendiri. Banyak benda bermain di fikiran yang saya rasa perlu diluahkan. Penulisan adalah salah satu cara untuk saya melepaskan apa yang saya rasa serta memberi pandangan dan juga kritikan.

2. Dalam banyak- banyak menu, apakah menu yang paling Khairul Abdullah terrer masak?

Saya mahir memasak disebabkan saya memang sudah memasak sejak zaman remaja saya lagi. Menu paling saya terrer adalah Tomyam.

3. Siapakah penulis kegemaran anda? (tak kisah luar negara or dalam negara)

Penulis kegemaran saya ialah Jules Verne, novelis klasik yang menghasilkan karya sains fiksyen yang sangat saya kagumi. Semua bukunya say abaca berulang-ulang kali.

4. Apakah novel kegemaran Khairul Abdullah? (tak kisah luar negara or dalam negara)

Banyak juga novel yang saya gemari terutamanya dari penulis kegemaran saya Jules Verne. Namun novel-novel moden saya gemar karya Andrea Hirata terutamanya Laskar Pelangi.

5. Ada haiwan peliharaan tak di rumah?

Tiada. Sebelum ini ada beberapa ekor ikan guppy tetapi semua dah mati.

6. Jika anda diberi peluang untuk melancong secara percuma, ke manakah anda mahu pergi dan mengapa?

Tibet. Saya gemar sesuatu yang jauh dari arus kemodenan melampau.

7. Apakah Khairul Abdullah merancang untuk menulis dan produce novel terbaru?

Saya bukan penulis novel. Karya saya adalah non-fiction yang terdiri dari buku panduan kembara (Travel Guide) dan juga buku kritikan social (Social Critics). Saya memang sedang menulis beberapa buah buku terbaharu.

8. Apakah pesanan Khairul Abdullah kepada pembaca di luar?

Hiduplah untuk menjadi manusia yang sentiasa memudahkan urusan manusia yang lain.

9. Pada pandangan Khairul Abdullah, apa istimewanya novel Khairul Abdullah berbanding novel lain di pasaran?

Sekali lagi, buku-buku saya bukannya novel. Buku pertama saya berjudul I’m A Backpacker Europe sangat istimewa kerana ia merupakan buku panduan kembara pertama yang berbahasa melayu. Buku tersebut disenaraikan sebagai Buku Terbaik 2016 oleh MPH dan menang tempat ke-3 untuk Anugerah Pilihan Pembaca Popular-Berita Harian 2017.

10. Dari mana Khairul Abdullah selalu dapatkan ilham untuk menulis atau dari pengalaman sendiri?

Saya seorang traveller, saya berjalan melihat dunia. Dari situ saya banyak melihat dan menilai. Ianya memberi banyak idea kepada saya untuk menulis.

11. Apa rutin harian Khairul Abdullah? Ada yang rare tak?

Saya seorang bapa tunggal dengan 3 orang anak yang masih kecil berusia antara 1-5 tahun. Ketika ibu mereka meninggal, saya membesarkan baby yang berusia 7 bulan ketika itu. Sangat rare bagi seorang lelaki menjaga 3 orang anak kecil seorang diri apatah lagi seorang bayi kecil. Jadi rutin harian saya semestinya agak rare dari lelaki lain kerana saya membesarkan anak-anak yang masih kecil seorang diri.

12. Describe diri Khairul Abdullah dalam 3 patah perkataan?

Matang, kacak, istimewa. – Ha ha ha

13. Apa nasihat Khairul Abdullah kepada penulis- penulis yang masih baru dalam industri buku?

Teruslah menulis dan menulis.

14.  Selain Bahasa Melayu, Bahasa Inggeris, Apa lagi bahasa lain yang Khairul Abdullah kuasai?

Saya boleh berbahasa Deutsch (Jerman) kerana pernah tinggal di sana selama 4 tahun.

 

Kami sentiasa mendoakan penulis sentiasa mendapat idea mencurah2 untuk menghasilkan karya baharu. Ameen! Jadi, itu sahaja slot bersama penulis kali ini ya readers. Sehingga kita berjumpa di sesi temu bual yang akan datang.

 

Karya terbaru Khairul Abdullah boleh didapati di E-Sentral.com
https://www.e-sentral.com/author/filter/au_107782_Khairul-Abdullah/~

 

Sejenak Bersama Syu Ariani

Syu Ariani

Hai readers! Seperti kebiasaanya, admin akan kongsikan kepada anda hasil temu bual kami bersama penulis buku. Pada bulan ini kami berjaya menemu bual seorang penulis buku yang terkenal dengan bukunya, 100 Hari Mengenal Cinta, iaitu Syu Ariani!

Kalau readers nak tahu serba sedikit tentang penulis buku ini, boleh ikuti temu bual kami di bawah 🙂

 

Assalamualaikum hai! Saya Syu Ariani, berasal dari Johor Bahru. Syu bermula dengan menulis cerpen bertajuk Harga Sebuah Persahabatan yang dipaparkan di laman Penulisan2u. Setakat ini, Syu dah hasilkan dua buah novel 100 Hari Mengenal Cinta (Penulisan2u; Bonus Cerpen Dekatkan Jarak Kita) dan Aku Ada (Karyaseni). Insya-Allah, more to come!

 

1)  Siapa yang memberi inspirasi untuk Syu Ariani menulis?

Boleh tak, nak kata diri sendiri? Syu selalu rasa nak hasilkan cerita demi cerita. Syu nak bawa diri sendiri dan juga para pembaca untuk explore ‘dunia’ yang lain.

 

2)  Apa makanan kegemaran Syu Ariani?

Ayam goreng dan makanan pedas!

 

3) Siapakah penulis kegemaran Syu Ariani? (tak kisah luar negara or dalam negara)

Walaupun tak ada koleksi lengkap dan dah lama tak baca novelnya, Syu suka Jodi Picoult. Dia suka ketengahkan isu kekeluargaan, dikaitkan dengan isu semasa. Jodi Picoult boleh sedarkan kita tentang benda-benda yang kita anggap remeh aje dalam hidup ni.

 

4) Apakah novel kegemaran Syu Ariani? (tak kisah luar negara or dalam negara)

My Sister’s Keeper. Bacalah novel atau tengoklah filemnya banyak kali pun, memang rasa menusuk hati sangat!

 

5) Ada haiwan peliharaan tak di rumah?

Ada. Kucing. Hello Freddy, Aid, Nika & Wira!

 

6) Jika Syu Ariani diberi peluang untuk melancong secara percuma, ke manakah Syu Ariani mahu pergi dan mengapa?

Kalau diberi peluang, boleh tak pilih semua negara? Setiap tempat ada kelebihan tersendiri dan Syu yakin, semua tempat boleh buka mata hati kita.

 

7) Adakah Syu Ariani merancang untuk menulis dan produce novel terbaru?

Insya-Allah tak lama lagi, novel cinta aksi bertajuk Anastasia akan diterbitkan. Sekarang Syu dalam proses menyiapkan manuskrip genre cinta dan selepas itu, Syu akan sambung semula manuskrip thriller yang tergendala. Tolong doakan semuanya berjalan lancar dan dipermudahkan.

 

8) Apakah pesanan Syu Ariani kepada pembaca di luar?

Teruskan sokongan anda pada para penulis. Tanpa pembaca, penulis takkan pernah bergelar penulis. Dan tanpa sokongan anda, seorang Syu Ariani takkan wujud.

 

9) Pada pandangan Syu Ariani, apa istimewanya novel Syu Ariani berbanding novel lain di pasaran?

Sejujurnya, Syu tak rasakan novel Syu lebih istimewa atau lebih baik berbanding novel-novel lain. Tapi kalau pembaca mahukan kelainan dalam setiap karya, insya-Allah itu yang akan Syu berikan. Bermula daripada novel pertama, 100 Hari Mengenal Cinta yang bergenre cinta dan kekeluargaan, kemudian Aku Ada yang bergenre cinta paranormal dan misteri/thriller, dan selepas ini Anastasia pula, semuanya berbeza daripada satu sama lain. Baik genre, plot dan characters development, semuanya berlainan.

 

10) Dari mana Syu Ariani selalu dapatkan ilham untuk menulis? Ada yang dari pengalaman sendiri ke?

Pada Syu, ilham datang dengan pelbagai cara. Percaya tak, dengan satu ayat aje pun kita boleh dapat idea? Contohnya, manuskrip Anastasia. Sebenarnya Syu terjumpa ayat ni (lebih kurang) – “What if your favourite Disney’s princess is problematic?”. Terus terfikir, apa kata kali ini buatkan cerita yang fokusnya bukan pada watak tipikal? Syu terus rangka plot untuk Anastasia. Oh pada sesiapa yang tak tahu, Anastasia sebenarnya ialah nama salah seorang kakak tiri Cinderella. Psstt Syu dah ada idea untuk manuskrip seterusnya, menggunakan satu fairytale lain pula.

 

11) Apa rutin harian Syu Ariani? Ada yang rare tak?

Rutin harian? Tak ada yang rare. Buat masa sekarang, Syu merupakan penulis sepenuh masa. Jadi kebanyakan masa Syu akan diluangkan untuk manuskrip semata.

 

12) Describe diri Syu Ariani dalam 3 patah perkataan.

Talkative. Garang. Childish (kadang-kadanglah haha)

 

13) Apa nasihat Syu Ariani kepada penulis-penulis yang masih baru dalam industri buku?

Syu pun tak layak untuk beri nasihat sebenarnya, sebab Syu pun masih baru. Tapi harapnya semua orang kuatkan semangat, terus menulis, menulis dan menulis!

 

14) Selain Bahasa Melayu, Bahasa Inggeris, apa lagi bahasa lain yang Syu Ariani kuasai?

Rasanya tak ada kot. Dulu pernah belajar Arabic, France & Japanese tapi… Faham-faham ajelah haha

 

Kami harap Syu Ariani  akan terus merwarnai dunia penulisan dengan coretan yang menarik dan bermutu. Jika anda berminat dengan tulisan Syu Ariani, boleh klik pada link di bawah untuk mendapatkannya.

 

Karya terbaru Syu Ariani boleh didapati di E-Sentral.com
https://www.e-sentral.com/author/filter/au_94905_syu-ariani/~

Perangkap Minda Arus Perdana

Oleh: Faiz Al-Shahab

 

Sudah sekian lama saya tidak menulis, kesibukan dari hari ke hari mencemburui masa kita.

Pada mulanya, saya berniat untuk menulis pada hujung tahun ini, untuk merangkupi pelbagai kejadian yang telah berlaku di Malaysia, khususnya pada perubahan lanskap politik.

Walau bagaimana pun, pada satu pagi minggu lepas, saya dimaklumkan oleh rakan kerja sebaik tiba di pejabat tentang kejadian yang beliau telah dengar dan tonton dikaca televisyen berkaitan dengan sebuah program bernama Gegarvaganza di Astro, dimana penaja program Dato’ Sri Aliff Syukri telah menghina penonton di dalam studio  dengan mengatanya hodoh.

Agak naik angin dengan apa yang didengari, saya pun mencari rakaman ini di dalam Internet pada malam hari tersebut.

Setelah menontonnya, saya membuat keputusan untuk menulis serta merta tanpa membuang masa lagi.

Terima kasih Dato’ Sri kerana memberi saya semangat.

Program televisyen Gegarvaganza ini penuh dengan terpekik terlolong yang sebenarnya tak perlu ada pun tak apa.

Ya, apa yang Dato’ Sri Aliff telah lakukan dalam program ini adalah salah dari pelbagai aspek.

Beliau jelas kelihatan seorang yang tidak berpendidikan atau pun kurang pendedahan, jadi tidak hairanlah jika beliau bersikap tongong.

Namun begitu apa yang lebih menakjubkan untuk saya adalah penerimaan masyarakat kita kepada watak seperti Dato’ Sri Aliff dan sejenisnya pada kaca televisyen kita, pada tajaan kita, pada produk kita, dan pada penerimaan minda kita.

Seolah-olah minda kita akur untuk memilih yang paling teruk. Bagaimana masyarakat kita boleh terima produk dan perlakuan Dato’ Sri ini menentang logik pemikiran dan fitrah manusia.

Menerima beliau sebagai usahawan simbolik yang berjaya juga tidak kurang gilanya.

Tetapi semua ini adalah bukan salah beliau.

Dato’ Sri ini adalah seorang oportunis, dan dalam perihal ini beliau telah mengambil peluang untuk kepentingan perniagaannya.

Bagaimana watak ini dapat diterima masyarakat Malaysia, yang rata-rata menerima pendidikan rendah dan menengah secara percuma, adalah luar jangkaan.

Pemerhatian saya hanya dapat menjelaskan pandemik ini sebagai hasil daripada proses mencuci otak yang berpuluh tahun lamanya berlangsung di kaca televisyen.

Program-program bodoh dan kurang zat yang disajikan dari tahun ke tahun lambat laun akan memberi impak sebegini dimana masyarakat yang bahlul dapat dihasilkan dengan saksama.

Entiti seperti Astro, RTM, Media Prima, dan lain-lain yang sentiasa menipu masyarakat dengan kandungan tidak berkualiti sepatutnya dipersalahkan terlebih dahulu sebelum Dato’ Sri Aliff dikecam.

Industri televisyen Malaysia angkuh dan tiada tanggungjawab langsung dalam membangunkan sahsiah masyarakat kita.

Ya memang benar negara maju yang lain pun mempunyai saluran-saluran televisyen yang merosakkan, akan tetapi selalunya saluran-saluran yang kurang berzat ini diimbangi semula dengan saluran-saluran televisyen yang lebih berilmiah dan yang mengajak manusia berfikir.

Di Malaysia, saluran yang dikirakan sebagai ilmiah adalah saluran agama, malah itu pun sangat lemah kandungannya.

Jika ada program dokumentari dan ilmiah pun ianya tidak menarik dan ditetapkan pada tayangan siang sahaja.

Proses pembodohan dan penzombian manusia melalui kandungan hiburan ini telah berlangsung terlalu lama, dan telah merosak dan memundurkan pemikiran orang Malaysia, dan harus dihentikan serta merta.

Kita perlu faham kenapa ianya dilakukan, kerana masyarakat yang zombi adalah baik untuk pemerintahan dan perkhidmatan seperti bank, insurans, telco, celco, pembangun hartanah malah pendidikan juga.

Semuanya berkait rapat.

Apabila masyarakat lalai, maka lebih mudah untuk pembangun hartanah dan pihak bank menjual rumah pada kadar yang tidak munasabah, lebih mudah untuk pihak insurans mengenakan yuran premium insurans yang melampau, lebih mudah untuk syarikat telekomunikasi mengenakan caj yang tidak perpatutan, dan seterusnya.

Sama juga dengan pendidikan.

Pada tanggapan umum, anak-anak muda didorong untuk mengambil sijil diploma dan ijazah kerana mempercayai bahawa sijil-sijil pendidikan ini akan memberi peluang yang lebih baik untuk golongan ini keluar daripada perangkap B40.

Oleh demikian terpusu-pusu mak bapak yang menegaskan sijil diploma dan ijazah kepada anak-anak mereka walaupun mereka tidak minat untuk melanjutkan pengajian tinggi.

Yang mana kurang mampu akan menjual tanah atau menggadai barang kemas untuk menghantar anak mereka ke kolej dan universiti.

Walau bagaimanapun, kebanyakan daripada golongan muda ini akan mengambil pinjaman PTPTN.

Majoriti golongan muda kita akan meninggalkan kolej dan universiti untuk memulakan hidup bekerja dengan hutang yang sudah banyak.

Terbuktikah bahawa pendidikan tinggi dapat membantu kebanyakan kita untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik? Sedikit sebanyak kenyataan ini mungkin benar.

Akan tetapi apabila masyarakat sudah menjadi zombi, semuanya akan terikut-ikut untuk melanjutkan pengajian tinggi tanpa mengira kos dan implikasi.

Kolej-kolej dan universiti-universiti pun mula menjadi banyak dan kualiti mula tidak diambil berat kerana ianya kini merupakan peluang bisnes yang besar untuk semua.

Kolej yang separa elok mengeluarkan sijil yang tiada makna sebenarnya kepada golongan pemuda-pemudi ini kerana mereka akan menjadi graduan yang masih terperangkap dalam golongan B40, kecuali kali ini, perangkap ini disertai hutang pengajian tinggi pula.

Justeru, tidak pelik bahawa ramai daripada peminjam PTPTN ini tidak mampu untuk membayar semula pinjaman.

Ada antara mereka ini enggan membayar hutang pengajian tinggi mereka kerana mereka rasa tertipu. Tertipu dengan skim untuk mengkayakan institusi pengajian, yang tidak membawa apa-apa perubahan terhadap kualiti hidup mereka, malah ada yang disedut pula oleh pusaran B40.

Yang untung adalah kolej-kolej yang melihat peluang ini sebagai bisnes semata-mata.

Disini bukan saya mahu menentang keperluan pengajian tinggi, akan tetapi apa maknanya proses pengajian yang tidak berkualiti dan tidak mendorong kematangan pemikiran untuk anak-anak muda?

Jika semua anak-anak muda kita mempunyai sijil pengajian tinggi, tetapi tiada peluang untuk mendapat pekerjaan yang bagus, apa gunanya?

Hidup mereka adalah lebih baik tanpa sijil-sijil yang mahal ini, kerana sudah tentu mereka tidak terjebak dengan hutang-piutang yang besar.

Kembali semula kepada kes Dato’ Sri Aliff tadi, bagaimana masyarakat yang mempunyai ramai graduan boleh berseronok dengan hiburan sebegini?

Ada sesuatu dalam komuniti kita yang tidak kena. Begitu luas dunia ini dengan penuh kepelbagaian, namun orang kita masih tidak berminat untuk menjelajah. Sifat tidak ingin tahu ini menunjukkan bahawa kebanyakan kita sudah pun menjadi zombi.

Untuk mengubah nasib, kita harus menggalakkan orang-orang muda kita untuk melancong, menjelajah, dan membaca.

Amalan-amalan seperti ini boleh membantu kita keluar daripada perangkap minda arus perdana.

Jika tidak, kita hanya dilihat sebagai pengambil hutang yang sedia untuk disembelih…

Sejenak Bersama Hannah Ezaty

Hello readers! Pada bulan ini, admin akan kongsikan kepada anda hasil temu bual kami bersama penulis buku yang bernaung bawah Karyaseni dan Penulisan2u.

Kalau readers nak tahu serba sedikit tentang penulis buku yang terkenal ini, boleh ikuti temu bual kami di bawah.

 

Latar belakang Hannah Ezaty

Lahir, membesar dan tinggal di Pulau Pinang. Mempunyai pendidikan dalam bidang Perakaunan tetapi lebih cintakan dunia penulisan. Mula menceburkan diri dalam bidang penulisan selepas tamat belajar pada tahun 2011.

1) Siapa yang memberi inspirasi untuk Hannah Ezaty menulis?

Ketika di Tingkatan 2, cikgu Bahasa Inggeris saya ‘memaksa’ saya untuk menulis sebuah sajak. Kemudian, sajak tersebut telah diterbitkan ke dalam majalah sekolah. Bermula dari situ, tercetusnya minat dan inspirasi untuk menulis. Terima kasih, cikgu!

 

2) Apa makanan kegemaran Hannah?

Semestinya makanan pedas. Lagi pedas lagi syokk!

 

3) Siapakah penulis kegemaran Hannah? (tak kisah luar negara or dalam negara)

Ramaiiii!

 

4) Apakah novel kegemaran Hannah? (tak kisah luar negara or dalam negara)

Banyak. Tak tertulis rasanya. Tapi, antaranya ialah daripada tulisan Bikash Nur Idris, Ismi Fa Ismail dan Ramlee Awang Murshid.

 

5) Ada haiwan peliharaan tak di rumah?

Tak ada.

 

6) Jika Hannah diberi peluang untuk melancong secara percuma, ke manakah Hannah mahu pergi dan mengapa?

Negara-negara Eropah terutamanya Switzerland, Spain dan Iceland. Saya nak ke Switzerland sebab nak naik mountain coaster sambil menikmati panorama dan keindahan alam semulajadi di sana. Spain kerana sejarah serta budayanya dan Iceland kerana Aurora! Oh, ya. Teringin juga nak ke Istanbul untuk food hunting. I’m a food lover!

 

7) Adakah Hannah merancang untuk menulis dan produce novel terbaru?

Ya, saya bakal menerbitkan sebuah novel bergenre romance-mystery tak lama lagi berjudul 9 NOTA yang menceritakan kisah hidup seorang wanita yang sering menerima nota misteri daripada pengirim tak bernama dan bagaimana cara dan usaha yang dilakukan untuk menjejaki pengirim misteri berkenaan.

 

8) Pada pandangan Hannah, apa istimewanya novel Hannah berbanding novel lain di pasaran?

Dekat dengan hati pembaca kut?

 

9) Dari mana Hannah selalu dapatkan ilham untuk menulis? Ada yang dari pengalaman sendiri ke?

Ilham datang tak kira waktu. Kadang-kadang, bila nak tidur pun ilham boleh muncul. Bangun pagi pun boleh dapat ilham. Kebanyakannya datang daripada pemerhatian dan pembacaan. Ada juga daripada pengalaman sendiri dan orang sekeliling. Adakalanya daripada berita dan isu-isu semasa yang telah diolah sehingga menjadi sebuah fiksyen.

 

10) Apa rutin harian Hannah? Ada yang rare tak?

Rutin harian biasa-biasa saja. Cuma saya akan menulis antara jam 3 pagi sampai jam 9 pagi kalau ada deadline. Selebihnya macam rutin orang lain.

Saya juga suka melepak seorang diri kat balkoni rumah antara jam 2-3 pagi kalau tak boleh tidur sambil perhati kereta yang lalu lalang. Err… itu dikira rare tak?

 

11) Describe diri Hannah dalam 3 patah perkataan.

Sepi itu mengasyikkan.

 

12) Selain Bahasa Melayu, Bahasa Inggeris, apa lagi bahasa lain yang Hannah kuasai?

Pernah belajar Mandarin, Italian dan Spanish tapi sampai sekarang tak fasih-fasih. Hehe.

 

13) Apa nasihat Hannah kepada penulis-penulis yang masih baru dalam industri buku?

Jangan cepat mengalah dan berputus asa. Hargai diri sendiri dan bakat pinjaman tuhan. Teruskan berjuang!

 

14) Apakah pesanan Hannah kepada pembaca di luar?

Teruskan membaca dan teruslah menyokong industri buku dan penulisan.

 

Kami harap cik Hannah Ezaty akan terus merwarnai dunia penulisan dengan coretan yang menarik dan bermutu lagi. Jika anda berminat dengan tulisan Hannah Ezaty, boleh klik pada link di bawah untuk mendapatkannya.

 

Lebih banyak karya dari Hannah Ezaty boleh didapati di E-Sentral.com
https://www.e-sentral.com/author/filter/au_47199_hannah-ezaty/~

Sejenak Bersama Aliesha Kirana

Aliesha Kirana

 

Hello readers! Admin akan kongsikan hasil temu bual kami bersama seorang penulis dari Karyaseni dan Penulisan2u. Pada bulan ini, admin berjaya menemu bual seorang penulis buku yang terkenal dengan bukunya Love You Mr. Arrogant, Aliesha Kirana! 

Kalau readers nak tahu serba sedikit tentang penulis buku ini, boleh ikuti temu bual kami di bawah 🙂

 

Aliesha Kirana, 6 tahun bergelar penulis, 7 novel dan 1 kompilasi cerpen bersama Karyaseni dan Penulisan2u.

-Love You Mr. Arrogant

-Cinta Bersaiz XXL

-Miss You Mr. Arrogant

-Melodi Cinta II (cerpen Daim)

-Angin Cinta

-Mamat Muka Selenga

-Pak Cik Kerek Semanis Pavlova

-Jodohku Jejaka Jelita

 

Bagi yang ingin mengikuti perkembangan penulis, bolehlah mengikuti:-

Facebook Pages di fb.com/NovelisAlieshaKirana,

blog penulisan tintaalieshakirana.blogspot.com,

Wattpad @AlieshaKirana,

twitter dan instagram @alieshakirana.

 

1) Siapa yang memberi inspirasi untuk Aliesha Kirana menulis?

Saya sendiri tak pasti siapa yang beri saya inspirasi tapi saya rasa saya mula berminat untuk menulis sedari saya sekolah rendah lagi. Saya suka benar dengan karangan yang tak ada format. Jadi saya rasa saya harus bagi kredit kepada cikgu Bahasa Melayu saya dahulu sebab buat saya jatuh cinta dengan karangan. Dan sampai sekarang saya tak berhenti menulis.

 

2) Apa makanan kegemaran Aliesha Kirana?

Saya sejenis manusia yang tak memilih makanan, saya boleh makan semua (yang halal) jadi kegemaran saya pun ada banyak. To name a few; samgyetang, nasi ayam, ikan patin masak lemak, nasi kerabu, ayam percik, ikan keli bakar, daging kambing bakar dan banyak lagi. Oh terus teringat pasar malam. Lain kali jangan tanya saya bab makanan. Hahah.

 

3) Siapakah penulis kegemaran Aliesha Kirana? (tak kisah luar negara or dalam negara)

Ramai saja penulis yang saya suka, tapi kalau bukan semata sebab novelnya, saya akan sebut Illa Shanahila, Liz Haliza dan Aifa Batrisya. Sebab dia orang sahabat-sahabat penulis yang saya paling rapat. Aci kan? Haha!

 

4) Apakah novel kegemaran Aliesha Kirana? (tak kisah luar negara or dalam negara)

Banyak sebenarnya novel kegemaran saya jadi susah nak senaraikan satu-satu dekat sini.

 

5) Ada haiwan peliharaan tak di rumah?

Tak ada. Tapi teringin nak bela haiwan eksotik macam burung hantu, iguana mahupun ular sawa. Haha.

 

6) Jika Aliesha Kirana diberi peluang untuk melancong secara percuma, ke manakah Aliesha Kirana mahu pergi dan mengapa?

Kalau percuma dan tak perlu memilih, maka semua tempat di dunia ni saya teringin nak jejak. Tapi kalau kena pilih a few saja, maka saya mungkin akan pilih:

-Mekah dan Madinah, untuk ziarah dan umrah.

-Korea, pernah pergi tapi nak repeat sebab best sangat!

-Jepun, nak tengok sakura berkembang masa musim bunga.

-India, mungkin untuk merasai sendiri macam mana berlari-lari di taman bunga yang terbentang luas. Haha!

-Iceland, nak kejar Aurora Boraelis

-Switzerland, sebab view dia masya-Allah!

 

7) Adakah Aliesha Kirana merancang untuk menulis dan produce novel terbaru?

Yup. Insya-Allah, selagi diizin Allah untuk berkarya. Nantikan!

 

8) Apakah pesanan Aliesha Kirana kepada pembaca di luar? 

Bacalah buku-buku saya dan rakan-rakan penulis yang lain, kerana insya-Allah walau karya-karya kami banyak kekurangan tapi kamu sudah mencuba yang terbaik untuk memenuhi citarasa dan kepuasan pembaca. Tolong sokong industri novel dan buku ini, jangan biarkan ia hambar ya? Sokongan pembaca buatkan kami terus bersemangat untuk berkarya di masa hadapan dan mencuba untuk terus melakukan yang terbaik. Terima kasih untuk pembaca-pembaca yang tak henti-henti menyokong kami terutamanya saya, Aliesha Kirana, daripada dulu hinggalah sekarang, di saat jatuh bangun, susah dan senang. Terima kasih!

 

9) Pada pandangan Aliesha Kirana, apa istimewanya novel Aliesha Kirana berbanding novel lain di pasaran?

Lemah betul bab nak memuji novel sendiri,  sebab bagi saya banyak sangat kekurangan novel-novel saya ni. Tapi bagi saya apa yang berbeza dan boleh dikatakan istimewa adalah saya selalu memberi kelainan dalam watak-watak yang saya cipta. Setiap novel ada pelbagai watak yang berbeza. Contohnya:

-Love You Mr. Arrogant – kisah lelaki yang berlagak sombong dengan gadis naif.

-Cinta Bersaiz XXL – kisah gadis saiz XXL bertemu jodoh dengan lelaki sempurna.

-Mamat Muka Selenga – kisah lelaki biasa yang sengal dengan gadis garang, jiwa kental.

-Pak Cik Kerek Semanis Pavlova – kisah lelaki bujang terlajak kerana menjaga anak saudaranya yang lumpuh.

-Jodohku Jejaka Jelita – kisah lelaki berwajah keperempuan dan berperwatakan lembut.

Berbeza kan? Jadi nantikanlah apa kelainan yang saya bawa untuk novel berikutnya ya.

 

10) Dari mana Aliesha Kirana selalu dapatkan ilham untuk menulis? Ada yang dari pengalaman sendiri ke?

Ilham ini sebenarnya boleh didapati daripada pelbagai cara. Sengaja atau tidak sengaja. Biasanya saya dapatkan ilham daripada pemerhatian dan tontonan. Saya suka memerhati sekeliling saya dan dari situ kadangkala muncul idea yang saya tak sangka. Drama, program tv dan filem juga ada membantu dalam memberi inspirasi tetapi itu tidak bermakna saya meniru apatah lagi mengambil bulat-bulat daripada cerita tersebut. Saya biasanya suka memerhati satu-satu watak dan karakter yang saya tonton. Sebagai contoh, karakter Jep Sepahtu yang lucu dan sengal, membuatkan saya mendapat idea untuk mencipta watak sebegitu di dalam novel Mamat Muka Selenga.

Kalau daripada pengalaman saya sendiri ada juga saya masukkan tetapi biasanya tidak banyak. Sekadar 5 ke 10% sahaja, hanya sekadar penambah perasa. Contohnya di dalam novel Love You Mr. Arrogant, watak heroin, Zaara Amirah sukakan warna merah jambu, suka makan ikan keli dan ayam percik (nampak tak perkaitannya di sini dengan soalan tentang makanan kegemaran saya tadi? Haha), sama macam saya. Dalam novel Cinta Bersaiz XXL pula, kisah-kisah sadis yang dialami heroin, Adeeba Addin kerana dia bersaiz XXL, kebanyakannya saya pernah lalui sendiri sebagai seorang yang bersaiz besar.

 

11) Apa rutin harian Aliesha Kirana? Ada yang rare tak?

Rutin harian saya teramatlah membosankan jadi nak share pun takut orang lain mengantuk mendengarnya. Haha. Jadi sebab itu saya suka menulis sebab menulis membawa saya mengembara ke alam khayalan yang saya boleh corakkan sendiri.

 

12) Describe diri Aliesha Kirana dalam 3 patah perkataan.

Penulis. Pencinta. Pemimpi.

 

13) Apa nasihat Aliesha Kirana kepada penulis-penulis yang masih baru dalam industri buku?

Buat semua penulis baru, sama ada yang sudah punya buku atau masih mencuba untuk karyanya diterbitkan, saya cuma nak pesan supaya jangan berputus asa dan lemah semangat dalam berkarya. Jatuh bangun itu lumrah dalam kehidupan, termasuk dalam industri ini tetapi kita harus sentiasa percaya yang rezeki tak pernah salah alamat, asalkan kita berusaha dan tidak menyerah kalah.

Terus belajar dan belajar untuk memantapkan penulisan kita dan jangan pernah puas dengan tahap kita sedia ada. Bagi saya penulis juga harus jadi seorang pembaca supaya kita dapat luaskan minda kita dan belajar sesuatu daripada penulis lain. Kalau kita tak baca novel orang lain, kita akan rasa novel kita dah cukup bagus dan tak perlukan penambahbaikan lagi. Kalau kita baca novel dan lihat cara-cara penulis lain, barulah kita akan sedar yang bukan kita seorang yang pandai menulis. Masih ramai lagi yang pandai dan mungkin lebih pandai menulis daripada kita. Kan?

Jadi jangan putus asa, teruskan membaca, teruskan belajar, dan teruskan menulis. Teruskan usaha kalian dan teruskan perjuangan! Saya doakan setiap daripada kalian akan berjaya menempa nama dalam industri. Amin!

 

14) Selain Bahasa Melayu, Bahasa Inggeris, apa lagi bahasa lain yang Aliesha Kirana kuasai?

Saya boleh faham bahasa Hindi sikit-sikit, tapi nak bertutur tu gagaplah. Haha. Ini adalah hasil menjadi penonton drama Hindi tegar sejak kecil. Sekarang tengah cuba fahamkan bahasa Korea supaya bila tonton Kdrama tak payah fokus dekat subtitle sangat jadi boleh fokus tengok ahjussi-ahjussi yang berkarisma. Hahaha. Gurau.

 

Karya terbaru Aliesha Kirana boleh didapati di E-Sentral.com
https://www.e-sentral.com/author/filter/au_34513_aliesha-kirana/~