[REVIEW] WHEN HOME BECOMES SCHOOL

When Home Becomes School by Mary Esposito

After reading this book you will become familiar with: • Grade level literacy standards and learning expectations for Prekindergarten to Grade One; • Strategies to help your child master the literacy tasks commonly presented in these primary grades; • Methods to guide your child to read and write on their own, with competency, proficiency, and joy; • How to create playful learning environments, that allow your child to demonstrate what he or she knows, and needs to learn (i.e., writing letters the alphabet); • Games and activities that can reinforce reading and writing development; • Fiction and nonfiction books that will motivate your child to read; • Various read aloud and questioning techniques when sharing a book with your child; • Digital websites and learning platforms that are appropriate for grades Prekindergarten to Grade One.


As we all can’t deny, 2020 hit us hard and many industries suffered by its presence. Many had to shut down their businesses and some even had to relocate just to manage it overhead spending. A pandemic that effected many lives and taken more than it should. However, there are also many others that used this time of great depression into something profitable and a place of tranquility. One of the biggest sectors to be affected is, the education industry. Students were forced to use online learning as platform to learn but in a more serious way. This meant that even kids were given a brief that online learning will be a new term to normalize.

Students can fit them around their existing responsibilities and commitments, and can engage with multimedia content and learning materials at whatever time is most convenient to them. Even better: they don’t have to travel anywhere to study, they can simply log in to the virtual campus from the comfort of their own home or office.

There’s a second reason why online learning has become so popular: it’s cheaper. Cost can often be a prohibitive factor in why individual students don’t enrol in courses they’re interested in. This is also an issue for corporations who wish to encourage their employees to undergo further training but don’t have much of a budget for conferences and training courses. Online courses are easily accessible on much smaller budgets.

In addition to the convenience and the cost, a large number of students are turning to online learning courses because they have become a better way to learn. Those students who are serious about improving their understanding, learning new skills and gaining valuable qualifications are keen to enrol in the type of course that will be the most effective.

Because online courses give students full control over their own learning, students are able to work at their own speed. Generally students work faster than they would do otherwise and take in more information. They are able to move faster through areas of the course they feel comfortable with, but slower through those that they need a little more time on.

Many offline courses struggle to retain students throughout the length of the course. The Research Institute of America have found that this is not the case with eLearning. Rather, online courses have increased student retention rates from anything from 25% to 60%.It’s been suggested that more engaging multimedia content, more control over how they take in the material and less likelihood of classes clashing with other commitments all contribute to this rise.

Many students are put off enrolling in a face to face course due to the time investment it will require. This generally involves the time to get back and forth to classes, plus the time spent waiting for tutors and other students. A Brandon Hall report on eLearning within corporations found that this style of learning typically requires 40-60% less employee time than learning in a traditional classroom setting.

It’s also key to note that eLearning options generally allow students to split the time they are investing in the course in whichever way works for them. They don’t need to be able to dedicate large chunks of time to the course: it’ll work just as well if they can set aside half an hour from their lunch break each day.

Online learning is certainly the more effective option for students, but it’s also better for the environment.The Open University in Britain have found that online courses equate to an average of 90% less energy and 85% fewer CO2 emissions per student than traditional in person courses.

This certainly makes online learning and multimedia content a more effective method of education overall. Promoting and engaging in this kind of learning can help both individuals and corporations to do their bit for the environment and stick to their own personal environmental goals.

Interested in finding out more about the most effective way to learn languages? eLearning courses utilise high quality multimedia content to increase student understanding and provide an impressive virtually immersive experience.

eBook penuh boleh didapati di E-Sentral.com

[SNEAK PEEK} Suri Isabella

Suri Isabella oleh Sya Jamuri

Kerana terdesak dalam mencari pekerjaan, Suri Isabella terpaksa memegang jawatan sebagai pembantu peribadi kepada seorang lelaki yang berlagak dan miang seperti Adrian. Ini membuatkan hari-hari Bella di pejabat itu semakin tidak tenteram dibuatnya. Setiap hari, bagaikan ada saja wanita seksi yang datang bertandang ke pejabat itu. Bella juga ditugaskan untuk mengingati setiap nama skandalnya lengkap dengan biodata sekali. Memang kerja gila namanya! Kehadiran Adi, yang sudah beberapa tahun tidak berhubung seakan mengubah segalanya. Bella menaruh hati kepada lelaki itu sejak mereka sama-sama menuntut di Melbourne dulu. Malangnya, sahabat baiknya Eja juga menaruh perasaan yang sama terhadap Adi. Bella terperangkap di dalam dilema. Bingung. Tidak pasti keputusan manakah yang terbaik untuknya pilih. Keadaan semakin rumit apabila papanya ingin menyatukan dia dan Adrian. Mana mungkin dia dapat mencintai seorang lelaki yang cukup dia benci selama ini. Tambahan dengan perangainya yang kaki perempuan itu, sudah cukup membuktikan bahawa lelaki itu tidak mampu untuk menjadi suami yang baik. Mampukah Bella bertahan dalam mengharungi dugaan ini? Apakah dia mampu menolak permintaan papanya dan seterusnya menerima Adi?


SESEKALI aku mencuri pandang ke arah wajah lelaki yang sedang fokus memandang jalan raya itu. Mulut ini terasa seperti ingin berkata sesuatu, tetapi melihat wajahnya yang begitu serius, ibarat seekor harimau yang sedang menanti untuk menerkam mangsanya, lebih baik aku membantutkan sahaja niatku.

“Bella…” Lelaki itu memanggil namaku dengan nada perlahan, sekali gus membuatkan aku terpaksa memandang ke arah wajahnya sekali lagi. Jangan kata dia nak naik angin lagi sudah.

“I’m sorry… I tahu I tak patut naikkan suara tadi…” ujarnya lagi. Aku masih terdiam, tidak pasti apa kata-kata yang perlu aku balas. Takkan nak cakap, ‘okey… Never mind. Saya tahu semua ni sebab Adreana…’ ataupun… ‘Eh, tak payah minta maaf, awak tak salah pun.’ Erk… Okey, kedua- dua pilihan jawapan sangatlah poyo.

“Boleh tak you janji dengan I, yang you takkan larikan diri lagi macam tadi?” soalnya sambil menjeling ke arah aku yang duduk bersebelahan. Aku masih mendiamkan diri. Macamlah lepas ni aku nak keluar lagi dengan dia kut?

“Boleh atau tidak?” soal lelaki itu lagi setelah gagal mendapatkan jawapan dariku.

“Okey, okey… Boleh…Tapi, kalau saya nak tanya sikit, awak jangan marah ya?”

“Apa dia?”

“Janji dulu awak takkan marah…” ujarku sambil menghalakan jari telunjuk ku kepadanya.

“Okey, I tak marah…”

“Kenapa awak tak suka Adreana datang sini? Bukan ke, dia tu girlfriend awak?”

“Kenapa you cakap macam tu?”

“Yalah, selalunya awak tu kalau dengan perempuan, bukan main happy lagi. Tapi hari ni, awak tak macam selalu. In fact, saya tak pernah pun nampak awak marah-marah perempuan… Kecuali saya,” jelasku lagi. Ayat terakhir itu cuba ku perlahankan intonasinya.

Lelaki itu melepaskan tawa kecil dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Awak sebenarnya jealous, kan?” soal lelaki itu. Entah dari sudut mana yang dia nampak aku jealous, aku sendiri pun tak pasti, memang perasan betullah mamat ni!

“Haaa? What? Excuse me… No way. Tak ada faedahnya saya nak jealous pun. Lagipun, saya bukannya ada perasaan pun dekat awak…”

“Mengaku ajelah…”

“Pleaselah, Adrian… Saya berada dekat sebelah awak sekarang ni pun atas sebab kerja tau. Awak bos dan saya pekerja… That’s all… Tak lebih daripada itu, okey?” balasku sambil memeluk tubuh.

“Okey… Fine… Tapi, takkan tak ada sikit pun perasaan cinta pada saya?” soalnya lagi sambil menunjukkan secubit jari.

“T-I-A-D-A… Tiada…” Aku mengeja perkataan itu dengan jelas dan terang. Semoga lelaki itu dapat seratus peratus apa yang aku sampaikan.

“He is a lucky guy. To own you.”

“To own me? Siapa?” soalku sambil mengerutkan dahi.

“Lelaki yang I nampak dengan you dekat bawah office hari tu. What’s his name…” jawabnya sambil cuba meneka.

“Who? Adi?” jawabku secara spontan. Entah kenapa mulut ini begitu ringan tak sengaja menyebut nama lelaki itu di hadapan Adrian. Segera aku tutup mulutku menggunakan kedua-dua tapak tangan.

“Ooo… Adi… So, maknanya I kena compete dengan Adi lah lepas ni untuk dapatkan you?”

“Dia bukan boyfriend I lah!”

“Wow… That’s better! Maknanya, I tak perlu compete dengan sesiapa.”

“Stop it, Adrian. Boleh tak kita tukar topik lain? Please …”

“Yes, madam! Noted…” Dia tergelak kecil sebelum menabik tangan.

eBook penuh boleh didapati di E-Sentral.com

https://www.e-sentral.com/book/info/329435/Lillyann’

[SNEAK PEEK] Lillyann

Darling Delia oleh Cici Aida

“Yen selalu balik sini sebab Ann. Yen suka Ann.” – Khazrin Selama 3 tahun dia hanya memandang dari kejauhan dan mencintai dalam diam. Sekali dia luahkan, terduduk emaknya dan tidak terkata ayahnya. “Selain daripada sebab suka dan cinta, ada sebab lain kenapa saya nak kahwin dengan awak.” – Khazrin “Sebab apa?” – Ann Sebab pak ngah dah dinodai oleh mata awak bila awak tengok pak ngah tanpa baju hari tu.” – Khazrin Berkahwin dengan jiran sendiri langsung tiada dalam kamus hidup Ann. Sementelah dengan jiran yang namoak sombong tetapi ‘playful’ seperti Khazrin. Tetapi yang tidak pernah terfikir itulah yang menjadi kenyataan. Seperti aturan takdir kehidupan yang harus dia idamkan… Semua boring dah lengkap tapi ada satu borang yang masih belum terisi.” – Ann Pahit dan pedih untuk diterima. Yang nyata, Ann terluka. Namun saat dia kembali bangkit dengan rasa bahagia, kedukaan kembali menjengah buat kali kedua. “Kenapa tolak abang? Kenapa tak nak tengok muka abang? Hurm, baby? – Khazrin Takdir apakah yang telah membuatkan Ann terluka? Dan apa lagi yang harus dia hadapi untuk mengecapi rasa bahagia? It hurts to know the truth but it hurts more if you keep living in denial.


EMIR jeling jam di pergelangan tangan. Dia masih menunggu Anas yang tidak muncul-muncul. Sesekali gambar di dalam iPhone ditilik satu per satu. Dia cuba merealisasikan impian seorang gadis rugged a.k.a buah hati dalam diamnya. Dan dalam masa yang sama namanya pasti akan tercatat sebagai salah seorang penyumbang besar di butik tersebut. Siapa lagi kalau bukan Darling.

“Senyum aje abang kontraktor kita ni. Seronok buat bangunan, ya?”

Emir mengangkat pandangan. Anas berdiri dengan senyuman lebar. Telefon yang berada di tangan cepat-cepat disimpan masuk ke dalam poket seluar.

“Sorry, jalan jammed tadi. Aku tak boleh nak elak.” Anas tarik kerusi di hadapan Emir.

Kotak rokok terus dicapai selamba. Itu sudah tentu rokok kirimannya tadi. Dan tanpa disuruh, sekeping not dua puluh dikeluarkn dari dalam dompet dan disorok di depan Emir.

“Lebih masuk tabung. Nak kahwin nanti, kan.” Anas menyengih.

Tapi Emir sudah tekup muka. Malu betul dia dengan ayat perli kawan sendiri. Tak sudah-sudah nak mengenakan dia.

“Ingatkan kau dah sampai tadi. Rupanya aku sampai dulu,” bebel Emir. Sengaja nak buat kawan sendiri jadi serba salah. Padahal dia pun baru saja lima minit sampai. Airnya luak setengah sebab tekaknya terlalu haus.

“Kau pun satu, last minute bagi tahu nak lepak kedai ni. Kalau tempat biasa senang sikit aku nak ikut jalan pintas.”

Emir senyum. Salah sendiri juga, tiba-tiba saja nak ubah haluan makan di tempat lain. Restoran yang menyediakan masakan ala-ala kampung.

“Kau sorang aje ke?”

“Dah tu kau nampak aku berdua ke?”

“Eh, manalah tahu ada mana-mana mambang kau bawa datang sekali. Bolehlah kenal-kenalkan dekat aku.” Meliar mata Anas memandang sekitar restoran tersebut.

Emir menyengih sambil geleng kepala.

“Orang cakap dia tersengih pula. Dah, tak payah nak tayang gigi sangatlah. Kaukan anak mak. Selagi tak halal, mana boleh bawa perempuan keluar sesuka hati, kan. Macamlah aku tak tahu.”

“Apa kau bebel ni?”

“Yalah! Aku cakap betul apa. Orang jadi anak mak ni memang selalu mendengar kata. Sekali pun dia takkan membantah. Sebab tulah soal jodoh pun dia serah bulat-bulat pada mak. Kalau aku tak boleh. Jawabnya ke lautlah muka bakal bini aku nanti. Mak aku tu cita rasanya lain macam sikit,” komen Anas.

“Dah-dah. Kita datang sini sebab dah lama tak jumpa. Bagi tahu ajelah apa kau nak cakap tadi. Aku sedia mendengar.”

“Eh, macam tu aje? Senang betul.” Berlapis dahi Anas. Nafasnya yang tercungap-cungap berjalan dari parkir tadi pun belum reda lagi.

“Dah tu?” Emir kerut kening.

“Kalau ya pun bagilah aku bernafas dengan betul dulu. Baru aje sampai. Order minum pun tak lagi. Kejap.”

Anas bangun dan berlalu ke kaunter. Perbualan yang tidak sampai seminit dengan juruwang restoran tersebut membawa Anas duduk semula di kerusi berhadapan Emir.

“Mana Bella? Lama aku tak nampak dia keluar dengan kau? Ke kau tak bagi dia keluar rumah lagi?”

“Entahlah. Aku pun dah lama tak jumpa dia.” Jujur Emir menjawab.

Sebaliknya Anas kerut kening seolah-olah tak percaya mendengar jawapan sahabatnya itu.

“Kliselah ayat kau, bro . Tinggal sebelah- menyebelah takkanlah tak nampak muka kut?”

“Ya, aku dah lama tak jumpa Bella. Dia kerja, aku kerja. Mana sempat kami nak jeling-jeling mata.”

“Ini lagi aku tak percaya. Takkan sampai sidai kain belakang rumah pun kau tak nampak? Bella tu bakal calon isteri kau. Masa nilah korang nak kenal-kenal. Takkan nak tunggu tidur sebantal baru nak kenal?”

Emir mengeluh mendengar Anas membebel. Mengalahkan kakaknya pula. Tapi nak buat macam mana kalau apa yang lelaki ini cakap semuanya betul.

eBook penuh boleh didapati di E-Sentral.com

https://www.e-sentral.com/book/info/329435/Lillyann’

[REVIEW] GULP! Cafe

GULP! Cafe oleh Najwa Rahman

ICED AMERICANO Perkenalan Iman dengan Jet bermula dengan Iced Americano. Dalam diam, Iman jatuh hati tapi Jet masih setia pada cinta lamanya. “You tak nak jadi barista?”- Iman “I dah tak ada sebab untuk jadi barista lagi.”- Jet Iced Americano itu pahit. Sepahit kisah cinta Iman tapi Iman tetap sukakannya… JODOH DARI LANGIT Waktu ibu Jet tanya pada Apek bila nak kahwin. Jawapan dia, “Saya tunggu jodoh turun dari langit.”- Apek Tapi bila tiba-tiba dia dilamar si Lisa gadis sunti 17 tahun, dia serabut! Nak diterima atau patut dia tolak saja? CIK PEAH KLINIK SEBELAH Perkenalan mereka tidak dirancang. Adib itu nakal kuat mengusik. Peah itu kuat melayan. “By the way, Faridatul Afifah adalah sebuah nama yang sangat sedap. Kenapa kau bagitahu aku nama kau Peah?”- Adib “Sebab aku takut kau mandremkan aku, so aku rahsiakan nama betul aku.”-Peah SI SNEAKERS MERAH Senyuman si wanita buat jantungnya bergetar. Jatuh cinta pandang pertama itu wujud dalam kamus hidup Mike, si pencinta kucing.. “Beli untuk kucing ke?”- Mike “Tak, saya nak buat makan sarapan pagi. Makan dengan susu.”- Sarah Comel! Jawapan dari Sarah buat Mike terkedu. Namun ada kisah buat Sarah menjauh… Turut memuatkan cerpen Eccedentesiast dan lima cerita istimewa…


Dengan penuh hormat, saya ingin mengucapkan ribuan terima kasih kepada penulis dan penerbit ebook ini, buku ini membawa cerita yang penuh kegembiraan dan juga kesedihan, buku ini memberi satu pesanan bahawa impian itu boleh dicapai jika kita berniat dan berkerja keras terhadapnya. Tanpa menafikan apa-apa, halangan tetap akan menghentikan misi kita terhadap sukses. Namun, Jet, Apek, Adib dan juga Mike membuktikan bahawa dengan dedikasi adanya cahaya sukses.

Ebook ini Menceritakan pembuka kisah tentang jet, si duda yang tak yakin dengan hatinya terhadap iman. kemudian apek atau panggilan manjanya oleh lisa – pak cik. budak yang tak habis spm lagi nak jaga lelaki yang simpan cinta kerana sahabat. Adib dan peah. si kasanova yang kecewa dan kemudian jadi pencinta setia. last, mike yang punya keyakinan sangat rendah dalam menterjemah rasa hati terhadap sarah.

Seterusnya, GULP! Cafe adalah sebuah kisah yang memberi impak drama yang belainan daripada kisah drama yang lain. Kisah yang menitik beratkan kekuatan persahabatan yang tidak putus. Dengan mengejar satu impian yang jelas. Gelak ketawa yang tidak dinafikan membuatkan cerita ini lebih menarik dan menghiburkan pembaca.

Akhir kata, Cerita ini sesusai kepada sesiapa yang ingin kata harapan untuk mengejar impian mereka, cerita ini juga sesusai kepada mereka yang menitik beratkan nilai persahabatan. Sudah terang lagi bersuluh ebook ini menceritakan kisah yang menarik minat semua.

eBook penuh boleh didapati di E-Sentral.com

[REVIEW] TEN THINGS YOU NEED TO KNOW ABOUT COLLEGE

Ten Things You Need to Know About College by David House

Searching for a selecting a college or university is one of the most important activities you’ll undertake in your life. It determines much of your future as much as or even more than buying your first house, finding a soul-mate and getting married, applying for and accepting a new job and other major moments in your life. Paying for college is also the biggest purchase you’ll likely make in your life other than a house. Searching for a college to attend can be confusing, complicated, and time-consuming. The Ten Things You Need To Know About College provides you with information about colleges and universities that will help make your college search informed and successful.


I would like to take a moment to praise the author’s effort in trying to reach out and educate the public. The author’s open our eyes about what we need to know about college. Some people lost their way, what they need to do when they get offer from college/university.

This book also explain about strategic minded means that how you should plan where you’ll headed as institutions and how you’ll get there. College and universities are a lot like businesses. They work very hard to get students register at their places to make students aware about their college/universities . They tried their best to provide best facilities and campuses to their future students. So, as students, you need to need to be strategic and competitive as well, this is because you will face major competition and that’s means you need to market yourself too. You need to plots out strategy that consist of what you need to do, when you’ll do it, and how you’ll do it.

What makes you need to buy this book is that the author’s also share about you major of studies. The author explain, your major probably won’t define your life or your future career. Because there are plenty of people that what they do now does not same with what their major is. You need to be an explorer, open to new ideas, adventuresome, intellectually curious, mentally agile, and intent on finding something.

On top of that, this book also explain to you about study abroad. When you join a program to study abroad, you will get opportunity to live and study abroad. discovering what it’s like to be a foreigner is a challenging but mind-expanding experience. You should grab opportunities when your college/university offer a program to study abroad. You will learn so much about their culture, language and etc.

I highly recommend this book to students that just finish their high school or to people that wish to further their studies.

eBook penuh boleh didapati di E-Sentral.com

[REVIEW] VAKSIN

Vaksin Oleh Prof. Dr. Azizi Ayob

 

Zaman ini, topik vaksin akan sentiasa menimbulkan pertentangan. Ada banyak dakwaan-dakwaan yang timbul. Melalui buku ini, penulis yang pernah terlibat secara langsung dengan pembuatan ubat-ubatan dan vaksin, menjelaskan hakikat sebenarnya.

I would like to take a moment to praise the author’s effort in trying to reach out and educate the public. With all the misunderstandings about vaccine brought up by certain groups of people, this book clearly does a good job to clarify and straighten things up.

Not only this book explains how vaccines is clinically made and strictly tested, it also mentions briefly about vaccine main components and pharmacological principles behind a vaccine. The explanations provided in this book are convincing and backed up by evidences that can correct common misperceptions about the adverse effects of vaccines, how vaccine works and its importance in ensuring public safety. The claim that doctors are conspiring with pharmaceutical company are clarified and showed to be irrelevant.

What makes this books even more special is that it also talks about vaccine from the perspective of Maqasid Syar’iyyah and usul Fiqh like the hukum of the vaccine itself and the hukum of vaccinating.

I highly recommend this book to new parents, parents and medical practitioners especially.

eBook penuh boleh didapati di E-Sentral.com
https://www.e-sentral.com/book/info/303548/vaksin

[REVIEW] PUAKA BUNDLE

Puaka Bundle Oleh Ayda Arianna

 

Sedang asyik memilih baju di dalam guni, pak long dikejutkan dengan suara batuk kecil seorang lelaki. Berderau darah pak long apabila melihat seorang lelaki tua berpakaian Melayu serba hitam sedang berdiri di hadapannya. Pak long menelan liur, seram sejuk seluruh tubuhnya. Bila masanya lelaki itu ada di situ? Bunyi langkahnya langsung tidak kedengaran. Namun, bukan kemunculan tiba-tiba orang tua misteri itu sahaja yang mendebarkan dadanya, kerana apa yang sedang berlaku di dalam kedai bundlenya adalah lebih menggerunkan lagi. Pak long dapat melihat berpuluh-puluh rangka manusia berpakaian lusuh dan koyak rabak sedang memenuhi kedainya. Rangka-rangka manusia itu sedang merayau-rayau, seperti pelanggan yang sedang melihat-lihat dan memilih pakaian yang dijual. Pak long hampir terkencing di dalam seluar apabila tiba-tiba semua rangka-rangka manusia itu serentak menoleh memandang kepadanya! Kisah yang berlaku dalam buku ini mungkin pernah benar-benar berlaku kepada kawan kepada kawan kita, atau sepupu kepada kawan kepada kawan kita. Yakinlah, alam ghaib itu wujud. Ia sentiasa menjadi misteri kepada kita, dan rahsia kepada orang-orang yang dianugerahkan Tuhan untuk melihatnya.

Puaka Bundle. Cerita ni unik. Tahniah kepada penulis kerana dapat garap jalan cerita dengan baik, lebih-lebih lagi part mimpi dalam mimpi dalam mimpi yang ada di akhir-akhir cerita. Dengan aku-aku sekali tertipu dan berdebar.

Memang benar, perasaan kasih sayang terhadap seseorang itu mampu gerakkan diri kita untuk lakukan sesuatu di luar batasan, malah melanggar syariat agama itu sendiri. Terlalu banyak kisah-kisah seumpama ini berlaku di sekeliling kita, lebih dahsyat apabila bergelumang dengan ilmu hitam dan tiada rasa sekelumit mahu berhenti dan berubah.

Malah, untuk berkata reda serta menerima sesuatu takdir itu cukup payah sebenarnya. Cukup payah. I’ve been there. Jadi, thumbs up to the writer. Buatkan aku rasa nak baca banyak kali buku ni.

Dan pastinya, akan lebih berjaga-jaga untuk beli pakaian bundle selepas ini. hahaha.

eBook penuh boleh didapati di E-Sentral.com